1Serma Rusiyadi tidak menyangka usaha pertenakan yang iya geluti itu sebagai usaha sampingan untuk menambah perekonomian keluarga membuah-kan hasil yang maksimal bahkan dapat mengangkat harkat dan martabat dia sebagai seorang Kepala rumah tangga, sebagai prajurit TNI-AD yang bertugas sebagai Babinsa Nagari Nagari Minang kabau Koramil 06/ Sungayang Kodim 0307/Tanah Datar.

Serma Rusiyadi sendiri tidak mengira kalau usaha yang degelutinya menjadi peternak yang sucses, bahkan membuat diri sebagai contoh dan motivator bagi prajurit dilingkungan TNI-AD khususnya dalam pelaksanaan program serbuan Teritorial yang sedang dicanakna oleh Komando atas.

Hal seperti ini lah yang membuat kebangga tersendiri bagi Serma Rusiyadi, dimana dia bisa bertemu dengan Para pejabat di lingkungan TNI AD, sekaligus menjadi nara sumber memapar-kan cara berternak yang baik     kepada para pese2rta pelatihan ketahanan pangan tingkat nasional di Pabrik Gula Camping Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan.

Sedikitnya 172 peserta dari seluruh Kasdam, Waster Kasad, Danrem, Dandim serta Babinsa di seluruh Indonesia mengikuti pelatihan kader penanaman padi program ketahanan pangan TNI AD 2014, pada kesempatan itulah Serma Rusiyadi memaparkan kesuksesannya dalam berternak sapi, dan mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik, bahkan bisnis peternakan dan pupuk.

Bila dikaitkan dengan Program Korem 032/Wbr kedepan adalah meningkatkan adalah swasembada pangan dalam 3 tahun kedepan diwilayah Sumatera Barat dimana peran Satkowil harus terus ditingkatkan sesuai juga dengan perintah Kasad satuan kewilayahan harus beruapaya melaksanakan Serbuaan territorial terutama terkait dengan mewujudkan ketahanan dan swasembada pangan dilaksanakan semaksimal mungkin membatu pemerintah daerah dan masyarakat.

Serma Rusiyadi sebagai Babinsa Nagari Minang kabau Koramil 06/Sungayang Kodim 0307/Tanah Datar Korem 032/Wbr tidak menyangka dia dibawa oleh Komandan Korem 032/Wbr Brigjen TNI Widagdo Hendro.S mengikuti pelatihan ketahanan pangan tingkat nasional di Pabrik Gula Camming Bone Sulawesi Selatan, sekaligus memaparkan keberhasilanya dalam beternak sapi dan mengelola pupuk Kompos pada tanggal 16 s/d 19 Desember 2014.

3Awal menjadi peternak.

Rusiyadi bercerita tentang mengapa ia mau jadi peternak sapi meskipun ia sebagai seorang prajurit yang bertugas sebagai Babinsa di Koramil Sungayang Kab.Tanah Datar, hal ini bermula ketika tahun 2012 ia baru pindah dari Korem 031/Wira Bima Provinsi Riau ke Korem 032/Wbr Sumatera Barat Kodim 0307/Tanah Datar, ia mendengar bahwa Asutralia tidak mau mengimpor sapinya ke Indonesia, padahal Indonesia sangat membutuhkan daging sapi, beranjak dari persoalan itu terpikir oleh Rusiyadi, masak untuk sapi saja kita harus mengimpor dari Ausralia, bahakan Indonesia sebagai Negara yang memiliki lahan yang cukup luas untuk beternak dan pertanian, tapi masih bergantung dengan Autralia.

Beranjak dari persoalan itulah Rusiyadi bertekad untuk berternak sapi, kebetulan tempat tinggalnya di kampung Istrinya Jorong Gudam, Nagari Pagaruyung Kecamatan Tanjung Emas Kabupaten Tanah Datar memiliki lahan yang cukup luas dan cocok untuk berternak sapi, tapi apa daya, tidak mempunyai ilmu berternak ditambah modalnya tidak mencukupi.

Namun Rusiyadi tidaklah putus asa, Rusiyadi mencoba mendatangi Dinas Perternakan Kab. Tanah Datar dan mencari Informasi bagai mana cara berternak sapi yang baik, termasuk mendapatkan progam Pemerintah di bidang perternakan, oleh Kabid Peternakan Kab. Tanah Datar Rusyiadi disarankan untuk membetuk kelompok tani.

Selang berapa waktu Rusiyadi pun membentuk kelompok ternak sapi dengan beberapa orang dikampung istrinya itu, kelompok yang iya betuk diberi nama “Kelompok ternak bangun nagari”. Untuk pengadaan sapi, ia tidak segan-segan menguras tabungan-nya yang tidak seberapa, untuk membeli seekor sapi jenis PO seharga 6,5 juta lebih, itulah awal dari kiprahnya menjadi perternak yang sucses.

Sayangnya meskiupun sudah mendapatkan arahan dari Dinas Penternakan, namun usaha tersebut belum berhasil, kegagalan itu bukan disebabkan karena tidak serius berternak, tapi dikarenakan sapi yang iya belikan itu tidak bisa berkembang biak karena sapinya mandul, namun Rusiyadi tidak berputus asa setelah tiga bulan sapi itu tidak beranak, lantas ia jual, uang tersebut dibelikan sapi jantan seharga 9 juta, dari situ dia memulaikan mengembangkan usaha ternak sapi ini, terang Rusiyadi mengatasi kegagalan saat memulai. Tekad nya terus berternak sapi mulai mem-perlihatkan hasil, dimana sapi jantan yang dipelihara memper-lihatkan perkembangan yang mengesankan, setelah 1,5 tahun memeliharanya dan sapi itu laku dijual seharga 27 juta rupiah.4

Melihat hasil yang cukup menggembirkan Rusiyadi pun tertarik dengan usaha peng-gemukan sapi, ia optimis kalau usaha sapi sangat menguntungkan Namun berbeda ketika memulai usaha penggemukan, uang yang didapat tidak di belikan sapi, akan tetapi dia gunakan untuk menbangun kandang, uang penjualan ditambah pinjaman sebesar 20 juta saya dipakainya membuat kandang dengan kapasitas 30 ekor sapi. Kandang yang telah di bangun itu masih kosong, lantas bagaimana mendapat sapi untuk mengisi kandang dengan kapasitas 30 ekor itu, sementara tidak punya uang lagi untuk membeli sapi, untuk mengatasi hal itu saya mengajak orang kampung agar mau memelihara sapi dikandang-nya ketika itu katanya ada lima ekor sapi yang dipeliharanya, tidak puas dengan lima ekor sapi itu saja saya pun mengajukan keredit kepada Bank untuk membeli sapi kebetulan pada waktu itu ada kredit ketahanan pangan dan energy (KKPE) yang memberikan peluang kepada peternak untuk mendapatkan kredit dengan bunga rendah.

Saya termasuk salah satu yang layak menerima kredit KKPE tersebut. Saat itu saya termasuk salah satu yang menerima kridit sebesar 200 juta rupiah untuk membeli sapi sebanyak 13 ekor ditambah dengan kepercayaan orang akhirnya kandang yang berkapasitas 30 ekor dapat terpenuhi tuturnya.

Mengelola kotoran ternak menjadi kompos

Dengan 30 ekor sapi yang dikelolanya terus berkembang namun kini mulai muncul dengan kotoran yang dihasilkan, oleh dinas peternakan ia disarankan untuk mengelola kotoran ternaknya menjadi Kompos, untuk itulah dia diajar membuat kompos kelompok ternak di Salimpaung Kabupaten Tanah Datar yang berhasil mengelola kotoran ternak menjadi kompos.5

Maka iapun mengembangkan usaha pengolahan kotoran ternak menjadi kompos, ternyata usaha tersebut juga membuahkan hasil yang optimal berkembang dengan baik, karena kesadaran petani untuk memakai kompos mulai muncul hingga kompos yang dibuat cukup laku terjual, yang menarik tidak hanya dari kotoran ternak itu sendiri, untuk meningkatkan produksi pupuk kompos ia mendatangkan kotoran ternak dari peternak masyarakat lainnya dikampungnya.

Cara yang dipakai untuk mendapatkan kotoran ternak milik masyarakat dengan cara cukup unik, dimana Rusiyadi membentuk “kelompok usaha bayar listrik dengan kotoran sapi”, jadi dengan cara itu setiap kotoran ternak ia ambil dari masyarakat dengan kompensasi “membayarkan       listrik     para peternak tersebut” cara ini sangat mujur karena dapat membantu mereka. Usaha pengelolan kompos semakin berkembang sehingga kompos yang dihasilkan mencapai 20 ton perbulan.

Pelatihan pembuatan Pupuk organik

Program Korem 032/Wbr untuk meningkatkan adalah swasembada pangan diwilayah Sumatera Barat mewujudkan ketahanan dan swasembada pangan membatu pemerintah daerah dan masyarakat, maka dilaksanakan pelatihan pembuatan Pupuk Organi seperti Rotan, Roter dan Roma dimana Rusiyadi ikut serta sebagai anggota pelatihan yang di laksanakan Batalyon Inf 133/Yudha sakti.

Setelah mengikuti pelatihan yang dilaksanakan Korem 032/Wbr di Batalyon Inf 133/Yudha sakti yang mendatangkan pakar dan ahli yang tergabung dalam wadah JKMP4, hal tersebut tidak saja membantu saya dalam mengelola kompos karena proses pengolahan kotoran tidak lagi berbau, dan dapat meningkatkan pertambahan daging mencapai 1.3 kg perharinya ujar.8

Kini telah mencapai 3 tahun usaha sapi yang digelutnya, saya sangat merasakan manfaatnya tidak saja dari sisi materi karena penambahan pendapatan, sayapun mendapat apresiasi dari pimpinan TNI-AD, kuhusnya oleh Komandan Korem 032/Wbr Brigjern TNI Widagdo Hendro. Saya diajak kemana-mana untuk memaparkan keberhasilannya.

Keberhasilannya sebagai peternak dapat mempelancar tugas pokoknya sabagai Babinsa dengan   ilmu   pengetahuan yang

didapat sebagai Babinsa harus menyatu dengan masyarakat dan lebih mudah bersosialissi dengan masyarakat karena rata-rata mereka adalah petani dan peternak, jadi usaha tidak menggangu tugas utama sebagai abdi masyarakat.